PUISI BATU TERAKHIR DITANAH HARAPAN UNTUK MEMBANGUN ASRAMA SYWADAYA (RPM SIMAPITOWA)
PUISI
BATU TERAKHIR DI TANAH HARAPAN UNTUK MEMBANGUN ASRAMA SYWADAYA (RPM SIMAPITOWA)
Penulis oleh : Elias Ekowaiby Iyai
Hujan turun deras, / besar pada pagi hari itu. Tanah becek, longsor, basah, dan udara dingin datang menusuk tulang. Tapi di tengah semua itu, para anggota RPM (SIMAPITOWA) tetap berdiri tegak, untuk cangkul tanah dan pula dengan tangan yang sudah penuh luka.
Kami anggota RPM SIMAPITOWA tahu, asrama ini bukan sekadar bangunan ini adalah mimpi yang lahir dari penderitaan.
Sebuah tempat bagi generasi untuk kita belajar, berdoa, dan menemukan jati diri.
Namun, di balik tawa kita, ada satu hati yang menyimpan kesedihan mendalam, RPM SIMAPITOWA seorang anggota yang selalu datang paling awal dan pulang paling akhir untuk ikut kegiatan pada saat.
Ia bekerja tanpa lelah, bahkan saat tubuhnya sudah gemetar karena demam.
Setiap kali ada yang menyuruhnya istirahat, ia hanya tersenyum, ialah senioritas.
Kalau kita tidak membangun, siapa lagi yang datang membangun?
Jika kita diam siapa lagi yang bersuara?
Sekarang kapan lagi?
Hari demi hari berlalu. Pondasi mulai kokoh, dinding mulai berdiri. Hari pertama kami mulai bergerak untuk membangun asrama. Beberapa bulan kemudian, asrama swadaya RPM SIMAPITOWA mulai berubah artinya mulai membangun.
Malam itu, saat semua telah sepi, angin berhembus melewati lokasi RPM SIMAPITOWA.
Suara lembutnya seperti bisikan yang datang dari surga.
Aku tidak sempat melihat bangunan ini berdiri tapi aku tahu, di sinilah cinta kita takkan pernah runtuh. Dan dari kejauhan, di bawah cahaya bulan, asrama itu tampak hidup bukan hanya karena dinding dan atapnya, tetapi karena jiwa dan raga kita.
semua anggota percaya bahwa impian kita akan terwujud sekalipun dibangun dengan air mata, tetap bisa berdiri tegak.
Aku telah berjuang dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
(2 Timotius 4:7)
Komentar
Posting Komentar